.menuhorisontal{width:100%; overflow:hidden; border-bottom:0px solid #000000;} .menuhorisontal ul{margin:0; padding:0; padding-left:0px; font:13px Arial; list-style-type:none} .menuhorisontal li{display:inline; margin:0} .menuhorisontal li a{float:left; display:block; text-decoration:none; margin-right:2px; padding:2px 2px 2px 2px; color:#000000; background:#CCCCCC;} .menuhorisontal li a:hover{color:#FFFFFF; background:#2E2EFE}
Tampilkan postingan dengan label SPIRITUAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPIRITUAL. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2009

sekte sekte dalam agama buddha

Sumber: http://www.geocities.com/budicentre

Agama Buddha memiliki banyak sekte/aliran karena:

1. Sang Buddha mengajarkan kepada banyak kelompok orang, ada yang masyarakat biasa, kaum terpelajar, kaum pertapa, para dewa, asura, dan sebagainya. Sang Buddha menyesuaikan materi yang diajarkan sesuai dengan pola pikir masing-masing kelompok yang berbeda.

2. Tiap-tiap manusia memiliki kecenderungan yang berbeda, baik minat maupun kebiasaannya. Hal ini menyebabkan cara setiap orang melihat ajaran Sang Buddha bisa dari berbagai sudut pandang, disesuaikan dengan mereka.

3. Masalah sekte/aliran, seperti halnya masalah agama, adalah masalah kesesuaian/kecocokan. Tentu saja hal ini berbeda pada setiap pribadi. Ajaran Sang Buddha amatlah luas, sehingga ada kelompok tertentu yang memiliki kecenderungan untuk memilih bagian atau tradisi tertentu dari ajaran Sang Buddha untuk dipraktekkan.

Sekte/aliran Buddha antara lain:

1. Theravada, adalah sekte yang dianggap paling dekat dengan tradisi awal perkembangan Buddhisme. Kalangan intelek yang menyukai pola berpikir kritis, rasional dan menyelidik, sangat tepat memilih sekte ini.

2. Mahayana, adalah salah satu sekte yang amat dekat dengan tradisi, khususnya tradisi Tionghoa, karena sekte ini sejak dulu berkembang pesat di Tiongkok. Pembacaan nama-nama Buddha sangat lekat dengan sekte ini. Sesungguhnya, sekte ini memiliki banyak sub sekte, tetapi di Indonesia fenomena ini tidak menonjol. Di Indonesia, sekte ini pernah berkembang pesat pada masa kejayaan Sriwijaya. Tentu saja pada saat itu, sekte ini lekat dengan tradisi Jawa Kuno. Sedangkan Mahayana yang berkembang sekarang di Indonesia diadopsi dari Mahayana orang Tionghoa. Memang, ciri khas Mahayana adalah keterbukaan/penerimaan yang amat besar terhadap tradisi setempat. Sehingga tidak heran, secara statistik, sekte ini memiliki penganut terbesar. Bagi yang suka hal-hal praktis dan tradisi dalam ajaran Buddha sangat cocok memilih sekte ini.

3. Tantrayana, adalah sekte yang paling berkembang di Tibet. Hal-hal yang tampak gaib di mata awam adalah ciri khas sekte ini. Sekte ini pun terbagi dalam sub-sub sekte. Bagi yang senang mendalami kegaiban dalam ajaran Buddha sangat cocok memilih sekte ini.

4. Tridharma, adalah sekte yang didirikan oleh kaum Buddhis yang selain kagum terhadap ajaran Buddha, juga amat terbuka terhadap filsafat Khonghucu dan kepercayaan Taoisme. Banyak kaum terpelajar yang tetap kental memelihara dengan kuat tradisi Tionghoa, memilih sekte ini.

5. Maitreya, adalah sekte yang berasal dari Taiwan. Banyak yang menganggap sekte ini telah menyimpang dari ajaran Buddha yang sesungguhnya, karena adanya misi keselamatan tunggal dari Buddha Maitreya, yaitu Buddha yang akan datang. Untuk mengikuti sekte ini, seseorang sangat dianjurkan bervegetarian dan menyebarkan misi Maitreya. Tata cara/upacara sembahyang sangat ditekankan dalam sekte ini. Perkembangan lebih lanjut dari sekte ini menghadirkan banyak sub sekte, yang mana sub sekte yang satu cenderung mengklaim dirinya sebagai sekte yang paling benar.

6. Nichiren, adalah sekte yang berasal dari Jepang. Maaf, saya tidak terlalu mengenal sekte ini. Silahkan tanya pada praktisi setempat jika Anda membutuhkan informasi yang jelas.

7. Satya Buddhagama, adalah sekte yang didirikan oleh Master Lu Sheng Yen, seorang Amerika keturunan Tionghoa. Ajaran Lu Sheng Yen merupakan pengalaman-pengalaman spiritual Beliau seputar ajaran Buddha dan kepercayaan Taoisme. Jika Anda berminat berguru pada Beliau, silahkan memilih sekte ini.

8. Buddhayana, sebenarnya bukan sekte/aliran yang berdiri sendiri, karena Buddhayana pada awalnya bertujuan untuk menghindari adanya sektarian dan kefanatikan. Mereka sangat terbuka terhadap Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Jika Anda tertarik dan sangat terbuka untuk mendalami ketiga tradisi ini, silahkan pilih Buddhayana.

9. Tradisional. Saya sangat ragu untuk memasukkan kalangan tradisional dalam salah satu sekte dalam agama Buddha. Tetapi, kenyataannya, itulah yang terjadi. Banyak umat Buddha yang mengaku beragama Buddha karena warisan tradisi (secara KTP beragama Buddha). Mereka sembahyang kepada Buddha dan dewa-dewa kepercayaan setempat, tetapi sesungguhnya mereka tidak mengerti ajaran Buddha. Mereka kental sekali dengan kepercayaan kepada dewa-dewa setempat. Fenomena ini pula yang menyebabkan banyak generasi muda yang lebih memilih pindah agama, karena di mata mereka, agama Buddha sangat kuno dengan tradisi yang mirip berhala. Jika terpaksa, golongan ini bisa dikategorikan sebagai sekte Mahayana atau Tridharma.

Sebenarnya, aliran/sekte dalam agama Buddha sangat banyak dan beragam. Yang disebutkan di sini hanya beberapa yang saya ketahui. Silahkan cari tahu sendiri jika Anda berminat

red : dari pandangan pemilik blog ini, di medan(asal muasal tempat tinggal saya) masih banyak yang menganut agama buddha jenis mahayana dan tradisional pada umumnya.. yang lebih banyak ke arah penyembahan dewa dewi dan ritual bakar uang kertas begitu juga rumah kertas dan pembacaan mantra/parita dari dewa dewi tersebut dan banyak juga yang meminta pho/jimat/tolak bala dari vihara tempat sembah dewa dewi.. masi jarang ada penganut theravada di medan.. ini dapat dilihat dari vihara yang ada di medan yang umumnya adalah vihara mahayana,tradisional dan tridharma.. setau pemilik blog ini vihara theravada dapat di jumpai di cemara asri(dalam kompleks) di depan/seberang vihara super duper gede yang ada di cemara asri.. vihara theravada yang dicemara terbilang kecil dalam ukuran gedung dibandingkan dengan vihara di depan yang memuja dewa dewi.. namun ya memang dalam ajaran buddha.. vihara dibangun karena untuk menghormati jasa jasa sang buddha dan supaya kita mengimani tekad sang buddha yang berjuang keras dalam mencapai penernagan sempurna.. ini hanyalah pendapat pribadi dari saya.. bukanlah kebenaran mutlak,masih banyak kebeneran mutlak diluar sana..

seputar dewa dewi dalam agama buddha

ADA GAK SIH DEWA/DEWI DALAM AGAMA BUDDHA ?

Agama Buddha mengakui keberadaan dewa/dewi dalam kontek alam seperti yg dijelaskan @jubah. Kalo di Islam mereka mengakui jin, malaikat dan iblis/setan. Umat kristiani secara umum mengakui malaikat dan iblis. Tapi yg perlu diingat, menyembah dewa/dewi itu sama sekali bukan agama Buddha. Banyak terjadi kesalahpahaman dalam agama Buddha karena banyak dari umat Buddha yg keturunan Tionghoa yg memang bersembayang pada dewa dewi. Kalo anda umat buddha keturunan Tionghoa, bukan maksud saya menyalahkan bila bersembayang di klenteng/vihara yg ada dewanya. Tapi yg perlu dipahami adalah sebagai umat buddha anda tidak berlindung pada dewa dewi. Anda berlindung pada Buddha, Dharma dan Sangha.

Di klenteng dan vihara Mahayana memang ada patung sebagai simbol Buddha dan Boddhisatva. Yang paling dikenal adalah Kwan Im Po Sat ( Boddhisatva Avalokitesvara ). Sering disalahpahami umat awam bahwa beliau adalah dewi. Soal pemahaman tentang bodhisattva dan kesalahpahaman ini sebaiknya anda pelajari secara bertahap.

Yang paling penting anda pelajari dan lakukan sebagai umat Buddha yg baru adalah :
1. Makna dari berlindung pada Buddha, Dharma dan Sangha.
2. Menjalankan Panca Sila Buddhis dalam kehidupan sehari hari.
3. Memahami konsep dasar Buddhisme, yaitu : Empat Realita Agung (Empat Kesunyataan yg Mulia), Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan Konsep Ketuhanan dalam agama Buddha serta bedanya dengan konsep ketuhanan yg umum.
4. Ikut kegiatan rutin vihara dan jika memungkinkan aktif di organisasi disana.
5. Mencoba banyak bertanya pada yg paham dan banyak membaca buku dharma.

Jika anda melaksankan ini, secara bertahap anda akan memahami ajaran Buddha. Seperti saya waktu pertama kali belajar agama buddha, waktu itu saya seperti menemukan sesuatu yg luar biasa, sampai sekarang saya semakin mengagumi ajarannya.

Jadi jika anda ditanya soal dewa dewi dalam agama Buddha, anda bisa menjawab banyak dan tak terhitung :p Tapi kita umat Buddha tidak berlindung pada dewa dewi itu.

red: menurut pendapat pribadi dari pemilik blog ini.. dewa dewi dalam agama buddha memang makhluk suci yang tinggal di surga,namun keberadaannya bukan untuk di sembah.. dalam bahasa roh.. dewa,malaikat atau apalah sebutannya.. semua adalah roh,bahkan kita juga roh(masi memakai wadah fisik jadi namanya manusia,kalo wadah ini uda rusak alias uda mati maka kita roh seutuhnya.. roh roh ini masi mencari jalan untuk kembali berpulang kembali kepadanya.. nah dari itu maka roh roh ini posisinya bukan untuk di sembah karena semua roh masi berusaha mencari jalan pulang(penerangan sempurna/kesadaran roh/ketemu guruji/ketemu roh kudus) .. namun ini hanyalah pendapat dari pemilik blog ini..

T i r a t a n a dan susunan dalam agama buddha

PENGERTIAN TIRATANA
Kata Tiratana terdiri dari kata Ti, yang artinya tiga dan Ratana, yang artinya permata / mustika; yang maknanya sangat berharga. Jadi, arti Tiratana secara keseluruhan adalah Tiga Permata (Tiga Mustika) yang nilainya tidak bisa diukur; karena merupakan sesuatu yang agung, luhur, mulia, yang perlu sekali dimengerti (dipahami) dan diyakini oleh umat Buddha.

ISI TIRATANA
Sesuai dengan arti katanya, yaitu Tiga Mustika atau Tiga Permata, maka isi Tiratana memang terdiri dari 3 permata atau tiga ratana, yaitu: Buddha Ratana; Dhamma Ratana; dan Sangha Ratana.

Buddha Ratana:

  • Sang Buddha adalah guru suci junjungan kita

  • Yang telah memberikan ajarannya kepada umat manusia dan para dewa

  • Untuk mencapai kebebasan mutlak (Nibbana)

Dhamma Ratana:

  • Dhamma adalah kebenaran mutlak, dan juga merupakan ajaran Buddha

  • Yang menunjukkan umat manusia dan para dewa ke jalan yang benar, yaitu yang terbebas dari kejahatan, dan

  • Membimbing mereka mencapai kebebasan mutlak (Nibbana)

Sangha Ratana

  • Sangha adalah persaudaraan Bhikkhu suci, yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian (Sotapana, Sakadagami, Anagami, Arahat)

  • Sebagai pengawal dan pelindung Dhamma

  • Mengajarkan Dhamma kepada orang lain untuk ikut melaksanakannya sehingga bisa mencapai kebebasan mutlak (Nibbana)

Secara sistematik, dapat disimak pada skema berikut ini:

1. SAMMASAMBUDDHA

BUDDHA

2. PACCEKA BUDDHA

3. SAVAKA BUDDHA

1. PARIYATI DHAMMA

Tipitaka

Vinaya pitaka, Sutta Pitaka dan Abhidhamma Pitaka

DHAMMA

2. PATIPATTI DHAMMA

Ariya Atthangika Magga

Sila, Samadhi, Panna

3. PATIVEDHA DHAMMA

Magga, Phala, Nibbana

SANGHA

1. SAMMUTI SANGHA

2. ARIYA SANGHA

PENJELASAN TIRATANA

BUDDHA
Arti Buddha (dalam Khuddaka Nikaya) adalah:

  1. Dia Sang Penemu (Bujjhita) Kebenaran

  2. Ia yang telah mencapai Pengerangan Sempurna

  3. Ia yang memberikan penerangan (Bodhita) dari generasi ke generasi

  4. Ia yang telah mencapai kesempurnaan melalui 'penembusan', sempurna penglihatannya, dan mencapai kesempurnaan tanpa bantuan siapapun.

Di dalam Anguttara Nikaya Tikanipata 20/265, disebutkan tentang sifat-sifat mulia Sang Buddha, atau disebut Buddhaguna. Ada sembilan Buddhaguna, yaitu:

  1. Araham= manusia suci yang terbebas dari kekotoran batin

  2. Sammasambuddho = manusia yang mencapai penerangan sempurna dengan usahanya sendiri

  3. Vijjacaranasampanno = mempunyai pengetahuan sempurna dan tindakannya juga sempurna

  4. Sugato = yang terbahagia

  5. Lokavidu = mengetahui dengan sempurna keadaan setiap alam

  6. Anuttaro purisadammasarathi = pembimbing umat manusia yang tiada bandingnya

  7. Satta devamanussanam = guru para dewa dan manusia

  8. Buddho = yang sadar

  9. Bhagava = yang patut dimuliakan (dijunjung)

Tingkat kebuddhaan adalah tingkat pencapaian penerangan sempurna. Menurut tingkat pencapaiannya, Buddha dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

Samma sambuddho

  1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan dengan usahanya sendiri, tanpa bantuan mahluk lain

  2. Mampu mengajarkan ajaran yang ia peroleh (Dhamma) kepada mahluk lain

  3. Yang diajar tersebut bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti dirinya

Pacceka Buddha

  1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan dengan usahanya sendiri, tanpa bantuan mahluk lain

  2. Tidak mengajarkan ajaran yang ia peroleh kepada mahluk lain secara meluas

  3. Yang diajar tersebut belum mampu mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti dirinya.

Savaka Buddha

  1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan karena mendengarkan dan melaksanakan ajaran dari Sammasambuddha

  2. Mampu mengajarkan ajaran yang ia peroleh kepada mahluk lain.

  3. Yang diajar bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti dirinya.

Para Buddha pada dasarnya mempunyai tiga prinsip dasar ajaran, yaitu seperti yang tercantum di dalam Dhammapada 183 sebagai berikut:

Sabbapapassa akaranam = tidak melakukan segala bentuk kejahatan
Kusalasupasampada = senantiasa mengembangkan kebajikan
Sacittapariyodapanam = membersihkan batin atau pikiran
Etam buddhana sasanam = inilah ajaran para Buddha

Ajaran Sang Buddha memberikan bimbingan kepada kita untuk membebaskan batin dari kemelekatan kepada hal yang selalu berubah (anicca), yang menimbulkan ketidakpuasan (dukkha); karena semuanya itu tidak mempunyai inti yang kekal, tanpa kepemilikan (anatta). Usaha pembebasan ini dilakukan sesuai dengan kemampuan dan pengertian masing-masing individu.

Jadi, ajaran Buddha bukan merupakan paksaan untuk dilaksanakan. Sang Buddha hanya penunjuk jalan pembebasan, sedangkan untuk mencapai tujuan itu tergantung pada upaya masing-masing. Bagi mereka yang tidak ragu-ragu lagi dan dengan semangat yang teguh melaksanakan petunjuk-Nya itu, pasti akan lebih cepat sampai dibandingkan dengan mereka yang masih ragu-ragu dan kurang semangat.

Sang Buddha sebagai penunjuk jalan tidak menjanjikan sesuatu hadiah ataupun hukuman bagi para pengikutnya, sebab Beliau mengajarkan Dhamma atas dasar cinta kasih, tanpa pamrih apapun bagi dirinya. Beliau berpedoman kepada 3 dasar kebijaksanaan yang bebas dari pamrih, yaitu:

  1. Beliau tidak girang atau gembira bilamana ada orang yang mau mengikuti ajarannya.

  2. Beliau tidak akan kecewa atau menyesal bilamana tidak ada orang yang mau mengikuti ajarannya.

  3. Beliau tidak merasa senang atau kecewa bilamana ada sebagian orang yang mau mengikuti ajaran-Nya, dan ada sebagian lagi yang tidak mau mengikuti ajaran-Nya.

Adalah bijaksana bila sebagai umat Buddha, setelah terlahir sebagai manusia janganlah tenggelam di dalam kepuasan sang 'aku'. Di dunia ini kita telah diberi warisan yang sangat berharga oleh para bijaksana. Sungguh bahagia bagi manusia yang bisa menerima ajaran Buddha yang telah dibabarkan di hadapan kita. Mengapa? Karena hadirnya seorang Buddha di alam kehidupan ini adalah sangat jarang. Di dalam Dhammapada 182 disebutkan demikian:

Kiccho manussapatilabho = sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia
Kiccho maccana jivitam = sungguh sulit kehidupan manusia
Kiccho saddhammasavanam = sungguh sulit untuk dapat mendengarkan ajaran benar
Kiccho Buddhanam uppado = sungguh sulit munculnya seorang Buddha

Jadi, manfaatkanlah kehidupan kita sebagai manusia sekarang ini untuk lebih giat lagi mempelajari Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan kepada manusia dan bahkan juga kepada para dewa, adalah demi keuntungan manusia dan para dewa itu sendiri guna mencapai Kebebasan Mutlak (Nibbana).

DHAMMA

Dhamma berarti kebenaran, kesunyataan, atau bisa juga dikatakan sebagai ajaran sang Buddha. Istilah Dhamma ini mempunyai arti yang sangat luas, yaitu mencakup tidak hanya segala sesuatu yang bersyarat saja, tetapi juga mencakup yang tidak bersyarat / yang mutlak. Untuk lebih jelasnya, dapat diuraikan dalam penjelasan berikut ini.

Dhamma terbagi menjadi dua bagian, yaitu Paramattha Dhamma dan Pannatti Dhamma.

  1. Paramattha Dhamma = kenyataan tertinggi, ada 4, yaitu citta (kesadaran), cetasika (faktor batin), rupa (materi), dan Nibbana

  2. Pannatti Dhamma = sebutan, konsep, untuk dijadikan panggilan atau sebutan sesuai dengan keinginan manusia.

Paramattha Dhamma terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu Sankhata Dhamma dan Asankhata Dhamma.

  1. Sankhata Dhamma, berarti keadaan yang bersyarat, yaitu:

    • Tertampak dilahirkan / timbulnya (uppado pannayati)

    • Tertampak padamnya (vayo pannayati)

    • Selama masih ada, tertampak perubahan-perubahannya (thitassa annathattan pannayati)

  2. Asankhata Dhamma, berarti sesuatu yang tidak bersyarat, yaitu:

    • Tidak dilahirkan (na uppado pannayati)

    • Tidak termusnah (na vayo pannayati)

    • Ada dan tidak berubah (na thitassa annathattan pannayati)

Nibbana disebut Asankhata Dhamma.

Di dalam Anguttara Nikaya Tikanipata 20/266, disebutkan tentang sifat Dhamma, atau Dhammaguna. Ada enam Dhammaguna, yaitu:

  1. Svakkhato Bhagavata Dhammo Dhamma
    Ajaran Sang Bhagava telah sempurna dibabarkan.

  2. Sanditthiko
    Berada sangat dekat (kesunyataan yang dapat dilihat dan dilaksanakan dengan kekuatan sendiri).

  3. Akaliko
    Tak ada jeda waktu atau tak lapuk oleh waktu

  4. Ehipassiko
    Mengundang untuk dibuktikan

  5. Opanayiko
    Menuntun ke dalam batin (dapat dipraktikkan)

  6. Paccattam veditabbo vinnuhi
    Dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing

Untuk dapat mengerti dengan benar mengenai Dhamma tersebut, maka kita harus melaksanakan dengan tiga tahap, yaitu:

  1. Pariyatti Dhamma
    Mempelajari Dhamma secara teori, dalam hal ini, yaitu mempelajari dengan tekun Kitab Suci Tipitaka.

  2. Patipatti Dhamma
    Melaksanakan (mempraktikkan) Dhamma tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Pativedha Dhamma Hasil (penembusan), yaitu hasil menganalisa dan merealisasi kejadian-kejadian hidup melalui meditasi pandangan terang (vipassana) hingga merealisasi Kebebasan Mutlak.

Istilah Dhamma di atas, meliputi Sutta Pitaka, Vinaya Pitaka dan Abhidhamma Pitaka atau Kitab Suci Tipitaka.

Walaupun Sang Buddha yang penuh cinta kasih telah parinibbana, namun Dhamma yang mulia, yang telah Beliau wariskan seluruhnya kepada umat manusia, masih ada dalam bentuknya yang murni. Sekalipun Sang Buddha tidak meninggalkan catatan-catatan tertulis tentang ajarannya, tetapi para siswa Beliau yang terkemuka telah merawat ajaran Beliau tersebut dengan jalan menghafal dan mengajarkannya secara lisan dari generasi ke generasi.

Segera setelah Sang Buddha wafat, 500 orang Arahat yang merupakan siswa-siswa terkemuka yang ahli di dalam Dhamma menyeleneggarakan suatu pesamuan untuk mengulang kembali semua ajaran Buddha. Yang Mulia Ananda Thera, yang memiliki kesempatan istimewa untuk mendengarkan semua khotbah Sang Buddha, membaca ulang Dhamma; sedangkan Yang Mulia Upali Thera membaca ulang vinaya. Demikianlah Tipitaka dikumpulkan dan disusun dalam bentuk yang sekarang oleh para Arahat.

Dhamma akan melindungi mereka yang mempraktikkan Dhamma. Praktik Dhamma akan membawa kebahagiaan. Barang siapa mengikuti Dhamma, maka tidak akan jatuh ke alam penderitaan.

SANGHA
Sangha berarti pesamuan atau persaudaraan para Bhikkhu. Kata Sangha pada umumnya ditujukan untuk sekelompok Bhikkhu. Ada 2 jenis Sangha (persaudaraan para Bhikkhu), yaitu:

  1. Sammuti Sangha = persaudaraan para Bhikkhu biasa, artinya yang belum mencapai tingkat-tingkat kesucian.

  2. Ariya Sangha = persaudaraan para Bhikkhu suci, artinya yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian.

Pengertian 'Sangha' di dalam Sangha Ratana ini, berarti kumpulan para Ariya atau kumpulan para mahluk suci. Di dalam ajaran Agama Buddha, dikenal adanya mahluk suci, yang disebut dengan istilah Ariya Puggala. Ariya puggala ini ada 4 tingkat, yaitu:

  1. Sotapanna = orang suci tingkat pertama (sotapatti-phala) yang terlahir paling banyak tujuh kali lagi.

  2. Sakadagami = orang suci tingkat kedua (sakadagami-phala) yang akan terlahir sekali lagi (di alam nafsu).

  3. Anagami = orang suci tingkat ketiga (anagami-phala) yang tidak akan terlahir lagi (di alam nafsu).

  4. Arahat = orang suci tingkat keempat (arahatta-phala) yang terbebas dari kelahiran dan kematian).

Untuk dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian, maka mereka harus dapat mematahkan 'belenggu' yang mengikat mahluk pada roda kehidupan. Belenggu ini disebut Samyojana. Ada 10 jenis belenggu yang harus dipatahkan bertahap sehubungan dengan pencapaian tingkat-tingkat kesucian, yaitu:

  1. Sakkayaditthi = kepercayaan tentang adanya diri / kepemilikan / atta yang kekal dan terpisah.

  2. Vicikiccha = keraguan terhadap Buddha dan ajarannya.

  3. Silabbataparamasa = kepercayaan tahyul, bahwa dengan upacara sembahyang saja, dapat membebaskan manusia dari penderitaan.

  4. Kamachanda / kamaraga = hawa nafsu indera

  5. Byapada / patigha = kebencian, dendam, itikad jahat.

  6. Ruparaga = keinginan untuk hidup di alam yang bermateri halus.

  7. Aruparaga = keinginan untuk hidup di alam tanpa materi.

  8. Mana = kesombongan, kecongkakan, ketinggihatian.

  9. Uddhacca = kegelisahan, pikiran kacau dan tidak seimbang.

  10. Avijja = kegelapan / kebodohan batin.

Mereka yang telah terbebas dari 1 - 3 adalah mahluk suci tingkat pertama (Sotapanna) yang akan tumimbal lahir paling banyak tujuh kali lagi.

Mereka, yang disamping telah terbebas dari 1 - 3, dan telah dapat mengatasi / melemahkan no. 4 dan 5, disebut mahluk suci tingkat kedua (Sakadagami), yang akan bertumimbal lahir lagi hanya sekali di alam nafsu.

Mereka yang telah sepenuhnya bebas dari no. 1 - 5, adalah mahluk suci tingkat ketiga (Anagami), yang tidak akan tumimbal lahir lagi di alam nafsu).

Mereka yang telah bebas dari kesepuluh belenggu tersebut, disebut mahluk suci tingkat keempat (Arahat), yang telah terbebas dari kelahiran dan kematian, yang telah merealisasi Nibbana (Kebebasan Mutlak).

Selain ditinjau dari 'belenggu' yang mengikat pada roda kehidupan yang harus dipatahkan, pengertian mahluk suci ini juga dapat ditinjau dari segi Kekotoran batin (kilesa)-nya, yang telah berhasil mereka basmi. Ada 10 kilesa yang harus dibasmi sehubungan dengan pencapaian tingkat-tingkat kesucian tersebut, yaitu:

  1. Lobha = ketamakan

  2. Dosa = kebencian

  3. Moha = kebodohan batin

  4. Mana = kesombongan

  5. Ditthi = kekeliruan pandangan

  6. Vicikiccha = keraguan (terhadap hukum kebenaran / Dhamma)

  7. Thina-Middha = kemalasan dan kelambanan batin

  8. Uddhacca = kegelisahan

  9. Ahirika = tidak tahu malu (dalam berbuat jahat)

  10. Anottappa = tidak takut (terhadap akibat perbuatan jahat)

Sotapanna, dapat membasmi no. 5 dan 6; Sakadagami, dapat membasmi nomor 5 dan 6 serta melemahkan kilesa yang lainnya; Anagami, dapat membasmi nomor 5, 6 dan 2 serta melemahkan kilesa yang lainnya; Arahatta, dapat membasmi kesepuluh kekotoran batin tersebut.

Di dalam Anguttara Nikaya, Tikanipata 20/267, disebutkan tentang sifat-sifat mulia Sangha, yang disebut Sanghaguna. Ada 9 jenis Sanghaguna, yaitu:

  1. Supatipanno
    Bertindak / berkelakuan baik

  2. Ujupatipanno
    Bertindak jujur / lurus

  3. Nayapatipanno
    Bertindak benar (berjalan di 'jalan' yang benar, yang mengarah pada perealisasian Nibbana)

  4. Samicipatipanno
    Bertindak patut, penuh tanggung jawab dalam tindakannya

  5. Ahuneyyo
    Patut menerima pemberian / persembahan

  6. Pahuneyyuo
    Patut menerima (diberikan) tempat bernaung

  7. Dakkhineyyo
    Patut menerima persembahan / dana

  8. Anjalikaraniyo
    Patut menerima penghormatan (patut dihormati)

  9. Anuttaram punnakhettam lokassa
    Lapangan (tempat) untuk menanam jasa yang paling luhur, yang tiada bandingnya di alam semesta.

Dalam Tiratana, yang dimaksud Sangha di sini berarti Ariya Sangha. Jadi kita berlindung kepada Ariya Sangha. Kita tidak berlindung kepada Sammuti Sangha; tetapi kita menghormati Sammuti Sangha karena para beliau ini mengemban amanat Sang Buddha sebagai penyebar Dhamma yang jalan hidupnya mengarah ke jalan Dhamma.

Para Bhikkhu Sangha yang selalu kokoh dalam Dhamma-Vinaya adalah merupakan ladang yang subur juga bagi para umat. Oleh karena itu para umat diharapkan juga bersedia berkewajiban menyokong agar para Bhikkhu Sangha kokoh dalam moralitas dan tindak-tanduknya.

bagaimana terjadinya relik ? apa itu relik?

ThoeYulius's Avatar
ThoeYulius Senangnya bisa berbuat kebajikan
Offering to the Buddha

Relik / Saririka Dhatu

Relik dalam agama Buddha disebut juga Saririka Dhatu. Istilah ini terdiri dari dua kata yaitu: 'Saririka' yang artinya jasmani dan 'Dhatu' yang artinya susunan. Jadi Relik sebenarnya merupakan sisa jasmani dari seseorang yang dipercaya telah mencapai tingkat tertinggi dalam pelaksanaan Ajaran Sang Buddha Gotama. Relik ini bisa merupakan rambut, gigi, kuku, bulu, tulang maupun abus sisa kremasi.

Relik merupakan suatu realita yang tidak mudah untuk didefinisikan serta sulit dipahami oleh alam pemikiran manusia nan terbatas.

Bagaimana terjadinya Relik?
Para pelaksana Buddha Dharma yang tekun dalam mempelajari dan melaksanakan Dharma, khususnya dengna melatih meditasi, mereka akan menggunakan energ pikirannya secara maksimal untuk berkonsentrasi. Akibanya, energi pikiran murni yang mereka pancarkan itu terserap oleh bagian-bagian tubuhnya sendiri. Selama bertahun-tahun tubuhnya diliputi oleh energi pikiran yang dahsyat ini. Karena itulah, ketika mereka meninggal dunia, beberapa bagian tubuhnya yang telah banyak menyerap energi ini menjadi berubah bentuk, mengkristal. Inilah yang disebut Relik.

Apakah kelebihan Relik?
Relik, memiliki kekuatan yang sulit untuk diterangkan secara logika pada saat ini. Kekutan Relik juga sulit dicarikan tandingannya. Telah banyak dialami oleh para pemiliknya baha butiran Relik bisa tumbuh lebih besar, warnanya bisa berubah lebih transparan bahkan bisa seperti berlian, bisa bertambah jumlahnya dan bahkan bisa lenyap sama sekali.

Relik yang memiliki energi positif dan suci dipuja oleh para dewa dan manusia. Banyak orang berkeyakinan bahwa dengan memiliki Relik, maka gelombang pancaran energinya akan memberikan kondisi karma baiknya berbuah dalam bentuk lebih mudah memperoleh kesuksesan, kemakmuran, kesembuhan untuk segala penyakit, keselamatan, keseimbangnan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, kebijaksanaan, kebajikan, persaudaraan, kesabaran dengan tekad dan sesuai dengan karmanya masing-masing serta berbagai bentuk kebahagiaan lainnya yang tak terhingga.

Bagaimana mengetahui kekuatan Relik?
Seseorang ang mempunyai ketajaman bathin tentunya akan dapat merasakan getaran energi yang terpancar dari butir relik, bahkan ia pun akan dapat melihat dalam bathinnya cahaya terang Relik tersebut sesuai dengan sifat pancaran energinya.

Cara menghormati Relik
Umat yang ingin memberikan rasa hormatnya kepada benda peninggalan orang suci ini dapat menaburkan bunga (jenis bunga yang disarankan adalah bunga melati) atau beranjali sambil bertekad sesuai dengan keinginannya atau berdoa: "Semoga semua makhluk hidup berbahagia". Masa sekarang ini juga dikenal adanya Parita Relik untuk menghormati Relik dan Paritta untuk mengundang Relik yang dapat dipanjatkan sesuai dengan keperluan.

red: ini hanya pendapat dari pemilik blog ini, hendaknya semua umat menghormati relik sang buddha namun janganlah sampai di sembah sembah.. sangatlah bertolak belakang dengan ajaran sang buddha.. relik memang benda yang sakral.. namun jangan sampai mengangap dengan mempunyai relik akan tercerahkan,kebal,kaya,dll.. itu adalah dua hal yang tidak berhubungan.. relik ada sebagai wadah yang mengingatkan kita bahwa semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk tercerahkan menjadi buddha(dalam bahasa buddha,dalam bahasa hindu ketemu dewa ruci,dalam bahasa jawa ketemu guruji,dalam bahasa kristen ketemu roh kudus)..

astaga... relik buddha diperjual belikan.. yang parahnya relik palsu lagi.. harga yang ditawarkan juga harga kacang goreng doank.. gwt...

Jakarta, Bhagavant.com --
Ketika kata ”relik Sang Buddha” disebut pasti sebagian umat Buddha mengetahui apa yang dimaksud dan mungkin juga ada yang belum mengetahuinya. Kata ”relik” itu sendiri berarti suatu obyek peninggalan masa lalu yang masih ada sampai sekarang. Relik juga dikaitkan dengan sisa-sisa bagian tubuh seseorang yang dianggap suci yang sudah meninggal. Relik Sang Buddha adalah sisa-sisa tubuh Sang Buddha yang tertinggal setelah jasad Beliau dikremasi.

Relik Sang Buddha memiliki bentuk yang beragam, dari berbentuk butiran seperti mutiara, helai rambut, sampai gigi dan tulang jari. Sudah berabad-abad lamanya relik Sang Buddha menjadi obyek yang sangat disakralkan bagi umat Buddha. Dan karena mitos-mitos yang tidak berdasar, banyak di antara umat Buddha yang mengembangkan pandangan keliru dalam pikirannya. Salah satu pandangan keliru tersebut adalah menganggap dengan memuja relik tersebut bisa memenuhi keinginan duniawi dan egois, seperti kekayaan, kesehatan, usia panjang, perlindungan dari santet bahkan mungkin ada yang berharap mendapat Pencerahan Sempurna dengan hanya memuja relik tersebut. Dan celakanya lagi jika umat tersebut tidak mengetahui apakah relik yang dipujanya itu adalah relik asli atau palsu.

Umat Buddha menganggap relik Sang Buddha sebagai obyek suci yang pantas dihormati karena berasal dari tubuh seseorang yang telah mencapai Pencerahan Sempurna. Biasanya relik tersebut diletakkan di dalam stupa atau pagoda yang sangat terjamin keamanannya. Tetapi bagaimana jika relik Sang Buddha diperjualbelikan? Apakah nilai kesucian dari relik tersebut dapat dipertahankan?

Mitos-mitos yang tidak berdasar dan berkembangkan pandangan keliru pada sebagian besar umat Buddha terhadap relik Sang Buddha, memberikan peluang bagi orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk mengeruk keuntungan pribadi dari peluang ini. Orang-orang ini berusaha menjual relik yang mereka klaim sebagai relik Sang Buddha. Dan hal ini sudah terjadi.

Ketika kita masuk ke situs e-bay yang terkenal sebagai situs lelang dan jual-beli, maka kita akan menemukan di sana obyek dari negara Thailand yang diklaim sebagai relik Sang Buddha sedang diperjualbelikan. Harga yang ditawarkan atas objek tersebut adalah sekitar US$ 9.99 sampai US$ 79.99 (sekitar Rp. 90.000,- sampai Rp. 720.000,-). Sebuah penawaran harga yang cukup mengkhawatirkan.

Terlepas dari penawaran harga yang cukup mengkhawatirkan tersebut, dan terlepas dari apakah obyek itu asli atau palsu, perbuatan menjualbelikan obyek tersebut yang diklaim sebagai relik Sang Buddha merupakan tindakan pelecehan dan suatu bentuk pembodohan.

Dikutip oleh Bhagavant.com dari Bangkok Post (27/6), sebuah grup kecil Buddhis bernama School for Life Foundation berusaha melobi Dewan Sangha dan Supreme Patriarch untuk memastikan agar relik-relik diperlakukan dengan hormat. Dan Acharavadee Wongsakon, pendiri kelompok tersebut memperingatkan bahwa sangat memungkinkan sekali obyek-obyek yang diperjualbelikan di e-bay tersebut merupakan relik yang palsu. Dan grup ini juga berusaha untuk melobi Perdana Menteri Surayud Chulanont untuk meminta pemerintah India agar memindahkan relik-relik dari museum umum dan dipindahkan ke dalam stupa.

Dengan adanya peristiwa ini, sudah selayaknya umat Buddha lebih berhati-hati dan selektif di dalam pemujaan relik Sang Buddha. Hendaknya umat Buddha tidak terburu-buru percaya begitu saja sebelum mengetahui benar asal-usul relik tersebut secara pasti jika ada kelompok-kelompok tertentu yang berusaha mengadakan upacara puja relik. Dan yang terpenting adalah meluruskan pandangan keliru terhadap pemujaan relik Sang Buddha

Relik Rambut Sang Buddha Ditemukan di Cina

BuddhistOnline.com - Ada kabar baik bagi umat Buddha. Belum lama ini, pertengahan Maret 2001, dikabarkan bahwa telah ditemukan relik rambut Sang Buddha di Cina. Kepada BBC, para ahli arkelogi di Cina mengatakan bahwa mereka telah menemukan sebuah kotak kecil yang terbuat dari emas yang diyakini berisi relik rambut Sang Buddha.

Kotak yang telah berusia sekitar seribu tahun itu ditemukan dalam penggalian sebuah pagoda yang terletak dibagian timur kota Hangzhou. Pagoda bernama Leifeng tersebut dibangun pada tahun 976 dan akhirnya di tahun 1924 terpaksa tutup gara-gara serangkaian pencurian relik.

Meskipun didalamnya diyakini terdapat relik rambut Sang Buddha, namun para umat Buddha belum dapat menyaksikan relik itu dalam waktu dekat karena kotak tersebut sementara ini belum akan dibuka. Bahkan mungkin saja tidak akan pernah dibuka karena dikuatirkan malah akan merusakkan kotak beserta isinya, seperti yang dikutip koran Shanghai Daily dari pendapat para ahli. Padahal para wartawan telah menunggu berhari-hari di luar museum lokal di Hangzhou untuk dapat meliput pembukaan kotak besi kecil itu oleh para ahli.

Sementara kantor berita resmi Cina menyatakan bahwa kotak itu berisi sebuah pagoda bersepuh perak yang berukiran sejumlah potongan peristiwa dari riwayat Sang Buddha.

Menurut catatan yang ada, penemuan relik rambut kali ini merupakan yang kedua kali terjadi di Cina. Yang pertama, ditemukan di bagian utara negeri tirai bambu itu sekitar tahun 1970. Relik rambut Sang Buddha juga diyakini berada di beberapa vihara di Birma, Kambodia, dan Thailand. Kalau di Indonesia ada tidak ya? Bilang-bilang dong! (bch) Sumber: BBC

Relik Sang Buddha dalam Stupa Bodhiratana

BuddhistOnline.com - Di awal tahun 2001, bisa jadi kebahagiaan dan kegembiraan yang diperoleh oleh umat Buddha Indonesia bakal lebih besar ketimbang mereka yang sedang merayakan tahun baru dan milenium baru. Mengapa demikian? Karena pada 1 Januari 2001 pukul 13.00 WIB akan diresmikan Stupa Bodhiratana yang merupakan stupa tertinggi dan terbesar yang telah dibangun di masa pembinaan Sangha Theravãda Indonesia (yang sampai saat ini sudah berusia 24 tahun).

Yang istimewa, dalam stupa yang dibangun di Panti Semedi Balerejo, Wlingi itu ditempatkan relik dari Sang Buddha. Relik merupakan sisa pembakaran jasad dari orang yang mencapai kesucian tertentu. Selama ini, sungguh sukar untuk menemukan relik yang benar-benar berasal dari sisa pembakaran jasad Sang Buddha.

"Jumlahnya sembilan butir. Relik itu merupakan pemberian dari Sangharaja Thailand," ungkap Y.M. Uttamo Thera, penggagas pembangunan stupa tersebut, kepada BuddhistOnline.com via e-mail.

Stupa BodhiratanaRupanya, nama yang disandang oleh stupa itu ada hubungannya dengan keberadaan relik tersebut. "Bodhiratana artinya 'Permata Penerangan Sempurna', karena memang di dalam stupa itu ditempatkan relik Sang Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna," kata Bhante Uttamo.

Tujuan pendirian stupa itu sendiri adalah untuk menghormat kepada Sang Buddha (yang berupa relik) dan meningkatkan semangat dan mengingatkan para umat Buddha bahwa apabila kita dapat berhasil melaksanakan Ajaran Sang Buddha yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka dalam diri kitapun kelak akan muncul relik.

"Selain untuk pemujaan, stupa tersebut dapat dijadikan bahan perenungan untuk meningkatkan semangat hidup sesuai dengan Buddha Dhamma," tutur Bhikkhu yang menjabat Wakil Ketua Umum STI 2000-2003 itu.

Balik soal ukurannya. Dibandingkan dengan candi-candi kuno yang ada di Jawa Timur, Stupa Bodhiratana juga masih lebih tinggi meskipun bukan yang terbesar. Jelasnya, stupa yang terbuat dari batu putih itu memiliki tinggi 9,56 meter dan lebar 5,50 meter. Sedangkan bobotnya secara keseluruhan lebih dari 40 ton.

Keunikan lain dari stupa itu terletak pada bentuknya yang kelihatan 'tidak biasa'. Bentuk yang 'tidak biasa' itu, menurut Bhante Uttamo karena, "Merupakan gabungan dari berbagai bentuk candi yang ada di Jawa Timur, mengingat Stupa Bodhiratana terletak di daerah yang sama."

Adapun pembangunannya hanya memakan waktu kurang dari empat bulan. Selama tiga bulan, pengerjaan fisik bangunan stupa itu dilakukan di tempat pemahatnya di Jawa Tengah, dekat Candi Borobudur. Setelah selesai, potongan-potongan dari stupa itu dikirim ke lokasi. Pemasangannya membutuhkan waktu sekitar tiga minggu. Total biaya yang diperlukan untuk pengerjaan stupa itu adalah 130 juta rupiah. Dari informasi yang ada, hingga saat ini masih terdapat kekurangan biaya sebesar 45 juta rupiah.

Asal tahu saja, awalnya stupa tersebut sempat mendapat julukan "stupa milenium' karena tanggal peresmiannya yang unik itu (1 Januari 2001 pukul 1 siang) merupakan permulaan dari milenium ketiga.

Dalam peresmiannya nanti, bakal ada beberapa Bhikkhu yang hadir. Selain Bhante Uttamo sendiri, ada dua Bhikkhu yang sudah memastikan diri untuk hadir yaitu Y.M. Mahanayaka STI Sri Paññavaro Mahathera (arsitek sekaligus perancang bentuk Stupa Bodhiratana) dan Y.M. Dhammavijayo Mahathera.

Senin, 21 September 2009

Siddhartha Gautama

Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhārtha Gautama (Sansekerta: Siddhattha Gotama; Pali: "keturunan Gotama yang tujuannya tercapai"), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harafiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni atau Sakyamuni ('orang bijak dari kaum Sakya') dan sebagai sang Tathagata. Siddharta Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha[1] Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti: sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,[2] sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.

Siddharta Gautama merupakan figur utama dalam Agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut Agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddharta Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini "keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha."

Orang tua

Ayah dari Pangeran Siddharta adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Sri Ratu Mahä Mäyä Dewi. Ibunda Ratu meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak itu maka yang merawat Pangeran Siddharta adalah Mahä Pajäpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya angat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, tempat yang dipijakinya tumbuh bunga teratai. Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala diramalkan bahwa Pangeran Siddharta kelak akan menjadi Maharaja Diraja atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan pasti meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa, atau ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:

  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa

Masa kecil

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara.Dan Masa Umur 16 Tahun Pangeran Memiliki 3 Istana Yaitu :

  • Istana Musim Dingin ( Ramma )
  • Istana Musim Panas ( Suramma )
  • Istana Musim Hujan ( Subha )

Ternyata akhirnya Sang Pangeran melihat empat peristiwa yang selalu diusahakan agar tidak berada di dalam penglihatannya, setelah itu Pangeran Siddharta tampak murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh dengan derita ini. Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Tetapi Pangeran Siddharta kurang berminat dengan pelajaran tersebut. Pada 7 Tahun Pangeran Siddharta mempunyai 3 Kolam Bunga Teratai Yaitu :

  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru ( Uppala )
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah ( Paduma )
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih ( Pundarika )

Masa dewasa

Ketika beliau berusia 29 tahun, putera pertamanya lahir dan diberi nama Rahula. Setelah itu Pangeran Siddharta meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alära Käläma dan kemudian kepada Uddaka Ramäputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Kata-kata pertapa Asita membuat Baginda tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian. Sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya "Empat Kondisi" yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Sehingga Pangeran Siddharta bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!". Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Masa pengembaraan

Pangeram Siddharta mencukur rambutnya dan menjadi pertapa, relief Borobudur.

Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasehati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:

Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu

Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil berprasetya, "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan , tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat itu. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.

Sekarang pertapa Gautama menjadi terang dan jernih, secerah sinar fajar yang menyingsing di ufuk timur. Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha [Sammasam-Buddha], tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Penyebaran ajaran Buddha

Sang Buddha memberi pelajaran tentang dharma kepada lima pertapa di Taman Rusa

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain : Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan "Empat Kebenaran Mulia".

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Khotbah Buddha Gautama terakhir mengandung arti yang sangat dalam bagi siswa-siswa-Nya karena mengandung prinsip-prinsip beragama, seperti

  • Percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan Ajaran Sang Buddha;
  • Jadikanlah Ajaran Sang Buddha (Dharma) sebagai pencerahan hidup;
  • Segala sesuatu tidak ada yang kekal abadi;
  • Tujuan dari Ajaran Sang Buddha (Dharma) ialah untuk mengendalikan pikiran;
  • Pikiran dapat menjadikan seseorang menjadi Buddha, namun pikiran dapat pula menjadikan seseorang menjadi binatang;
  • Hendaknya saling menghormati satu dengan yang lain dan dapat menghindarkan diri dari segala macam perselisihan;
  • Bilamana melalaikan Ajaran Sang Buddha, dapat berarti belum pernah berjumpa dengan Sang Buddha.
  • Mara (setan) dan keinginan nafsu duniawi senantiasa mencari kesempatan untuk menipu umat manusia;
  • Kematian hanyalah musnahnya badan jasmani;
  • Buddha yang sejati bukan badan jasmani manusia, tetapi Pencerahan Sempurna;
  • Kebijaksanaan Sempurna yang lahir dari Pencerahan Sempurna akan hidup selamanya di dalam Kebenaran;
  • Hanya mereka yang mengerti, yang menghayati dan mengamalkan Dharma yang akan melihat Sang Buddha;
  • Ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha tidak ada yang dirahasiakan, ditutup-tutupi ataupun diselubungi.

Sang Buddha bersabda, "Dengarkan baik baik, wahai para bhikkhu, Aku sampaikan padamu: Akan membusuklah semua benda benda yang terbentuk, berjuanglah dengan penuh kesadaran!" (Digha Nikaya II, 156)

Sifat Agung Sang Buddha

Sang Buddha menjelang Parinirwana.

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna) yang diwujudkan oleh sabda Buddha Gautama, "Penderitaanmu adalah penderitaanku, dan kegembiraanmu adalah kegembiraanku." Manusia adalah pancaran dari semangat Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang dapat menuntunnya kepada Pencerahan Sempurna.

Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

  • Tubuh (kaya) : pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vak) : penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (citta) : kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Bagaikan hujan yang jatuh tanpa membeda-bedakan, demikianlah "Cinta Kasih seorang Buddha". Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai "Pencerahan Sempurna". Sang Buddha adalah ayah dalam kasih sayang dan ibu dalam cinta kasih.

Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Seorang Buddha memiliki sifat-sifat luhur sebagai berikut:

  1. Bertingkah laku baik;
  2. Berpandangan hidup luhur;
  3. Memiliki kebijaksanaan sempurna;
  4. Memiliki kepandaian mengajar yang tiada bandingnya;
  5. Memiliki cara menuntun dan membimbing manusia dalam mengamalkan Dharma.

Buddha Gautama memelihara semangatNya yang selalu tenang dan damai dengan melaksanakan meditasi. Sang Buddha membersihkan pikiran mereka dari kekotoran bathin dan menganugerahkan mereka kegembiraan dengan semangat tunggal yang sempurna. Jangkauan pikiran Sang Buddha melampaui jangkauan pikiran manusia biasa. Dengan kebijaksanaan yang sempurna, Buddha Gautama dapat menghindarkan diri dari sikap-sikap ekstrim dan prasangka, serta memiliki kesederhanaan. Oleh karena itu Beliau dapat mengetahui dan mengerti pikiran dan perasaan semua orang dan dapat melihat yang ada dan yang terjadi di dunia dalam sekejap, sehingga mendapatkan julukan seorang yang telah Mencapai Pencerahan Sempurna (Sammasam-Buddha) dan Yang Maha Tahu (Sugata).

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.

Buddha Gautama bersabda, "Hanya dengan jalan melalui kepercayaan, keyakinanlah, mereka akan dapat mengikuti ajaranKu. Karena itu setiap orang hendaknya mau mendengarkan ajaranKu, kemudian menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari."

Wujud dan Kehadiran Buddha

Buddha tidak hanya dapat diketahui dengan hanya melihat wujud dan sifat-Nya semata-mata, karena wujud dan sifat luar tersebut bukanlah Buddha yang sejati. Jalan yang benar untuk mengetahui Buddha adalah dengan jalan mencapai Pencerahan Sempurna. Buddha sejati tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, sehingga Sifat Agung seorang Buddha tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun Buddha dapat mewujudkan diri-Nya dalam segala bentuk dengan sifat yang serba luhur. Apabila seseorang dapat melihat jelas wujud-Nya atau mengerti Sifat Agung Buddha, namun tidak tertarik kepada wujud-Nya atau sifat-Nya, dialah yang sesungguhnya yang telah mempunyai kebijaksanaan untuk melihat dan mengetahui Buddha dengan benar.